Bila kita melakukan perjalanan dari Banda Aceh kearah Meulaboh, setelah melewati puncak tertinggi di daerah tersebut yaitu puncak gunung Geurute maka kita akan memasuki sebuah kota yang terkenal dengan kota Lamno atau Peukan Lamno. Di daerah Lamno inilah dulu pernah berdiri kerajaan Daya yang pernah mengalahkan pasukan Portugis dan mengislamkan mereka serta mendirikan perkampungan etnis Portugis, sehingga daerah ini juga dikenal dengan perkampungan Si Mata Biru. Diatas puncak bukit di daerah Kuala Daya terdapat perkuburan raja – raja Daya yang terkenal dengan Almarhum Daya atau dalam bahasa Aceh biasa disebut dengan Meureuhom Daya, karena itulah daerah ini dikenal juga dengan negeri Meureuhom Daya.
Saturday
Abu Budi Lamno
Bila kita melakukan perjalanan dari Banda Aceh kearah Meulaboh, setelah melewati puncak tertinggi di daerah tersebut yaitu puncak gunung Geurute maka kita akan memasuki sebuah kota yang terkenal dengan kota Lamno atau Peukan Lamno. Di daerah Lamno inilah dulu pernah berdiri kerajaan Daya yang pernah mengalahkan pasukan Portugis dan mengislamkan mereka serta mendirikan perkampungan etnis Portugis, sehingga daerah ini juga dikenal dengan perkampungan Si Mata Biru. Diatas puncak bukit di daerah Kuala Daya terdapat perkuburan raja – raja Daya yang terkenal dengan Almarhum Daya atau dalam bahasa Aceh biasa disebut dengan Meureuhom Daya, karena itulah daerah ini dikenal juga dengan negeri Meureuhom Daya.
Abu Kruet Lintang
Teungku Haji Muhammad Yusuf lebih dikenal dengan nama panggilan Abu Kruet Lintang. Ia merupakan anak keempat dari Teungku Ibrahim bin Teungku Mahmud bin Teungku Amin Silang bin Teungku Rampah Tarung bin Teungku Shalahuddin. Teungku Shalahuddin lebih dikenal dengan nama panggilan Teungku Chik Keurukon yang konon berasal dari Yaman.
Teungku Syiah Kuala
Teungku Syiah Kuala
Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).
Masa muda
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.
Masa muda
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.
Friday
Ancient shipwrecks found
BY NELSON BENJAMIN AND ROYCE CHEAH SINGAPORE:
Sunday July 30, 2006
Three shipwrecks including one resembling a Portuguese warship have been discovered in the Straits of Malacca. Well-knownAustralian maritime archaeologist Dr Michael Flecker, who has carriedout more than 100 explorations in numerous countries around the region,made the latest discovery during a blanket survey along the Straitslast year. “At one location, I have found two vessels lyingside by side,” said Dr Flecker, who was reluctant to reveal the actuallocation to prevent looting.

Sunday July 30, 2006
Three shipwrecks including one resembling a Portuguese warship have been discovered in the Straits of Malacca. Well-knownAustralian maritime archaeologist Dr Michael Flecker, who has carriedout more than 100 explorations in numerous countries around the region,made the latest discovery during a blanket survey along the Straitslast year. “At one location, I have found two vessels lyingside by side,” said Dr Flecker, who was reluctant to reveal the actuallocation to prevent looting.
Thursday
Batu Aceh, Aceh Stone (Batee Aceh

Di samping kesatuannya, Dunia Islam menunjukkan keaneka-ragamnya melalui ciri-ciri yang dihasilkan oleh sesuatu masyarakat pada satu zaman tertentu. Di antara ciri-ciri ini terdapat hasil kesenian berkaitan dengan kematian, yaitu batu nisan. Di antara batu nisan Islam yang terawal di Asia Tenggara terdapat satu golongan yang disebut “batu Aceh,”[1] karena diduga hasil suatu tradisi yang berasal dari bagian utara Sumatra. Golongan ini dapat dibedakan dari batu nisan lain berdasarkan atas bahan, bentuk, dan hiasan. Sampai sekarang, “batu Aceh” paling tua yang tahunnya dapat dipastikan adalah batu nisan Sultan Malik al-Salih, sultan yang pertama memerintah kerajaan Samudra-Pasai di timur laut Sumatra, berangka tahun 1297 M (Ramadhan 696 H).
Subscribe to:
Posts (Atom)

